biografi

Aku lahir pada 31 Desember 1979, di bawah gugusan rasi capricornus, lima tahun setelah Malari membakar Jakarta. Ketika itu kabut sore perbukitan khas Priangan Timur berjatuhan membawa gelap datang lebih awal di kaki Gunung Sangkur. Lampu patromak menjadi sumber cahaya sebelum kemudian saat malam merambat naik cahaya bintang menggantikannya. Sebagian -cerita tentang diriku ini -terjadi di sebuah kota kecil di perlintasan Pasundan dan Jawa yang bernama Banjar, dimana ibuku memulai karirnya sebagai pengajar Sekolah Menengah Pertama tertua di  kota itu.

Seperti anak desa yang lainnya, Masa Kecilku aku habiskan sesuai putaran musim hujan dan kemarau serta hembusan angin, dimana semarak pedesaan ditentukan olehnya. Layang-layang yang berterbangan, kelereng-kelereng yang berkilauan, lompatan-lompatan yang lincah, kayuhan tangan melawan arus sungai, pusaran-pusaran panggal, nyanyian jangkrik aduan, dan teriakan-teriakan perang-perangan datang satu persatu saling menggantikan. 

 Aku lahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara. bersama dua lelaki lainnya diantara anak perempuan yang tertua dan yang termuda. usia masing-masing hanya berjarak antara dua dan tiga tahun. Sebuah rumah panggung tempat kami berteduh sempat bergetar hebat ketika Galunggung di Tasikmalaya menyemburkan debu dan menutupi seluruh permukaan tanah. Yang ku ingat, Saat itu hanya tangisan terkejut yang segera disusul tertawa lucu menyaksikan semuanya mendadak memutih tertimbun debu. sementara itu ayah dan saudara-saudara lelakiku memulai menbersihkannya. sehari-hari setelah itu, ibuku mengajariku bagaimana mencintai, sementara bapakku mengajari bagaiamana mengaji. karena ku tidak pandai mengaji, maka aku akan menagis untuk memintanya berhenti. sebuah pukulan di pantat dan segunung kemarahan yang tumpah sering membuatku bersedih, tapi juga membuatku tersenyum karena segalanya akan segera berakhir. seperti awan kelabu yang hilang diterpa angin. aku terlalu nakal saat itu. 

ketika malam-malam pedesaan mengunjungi kami, maka dengan sigap aku keluar mencari teman-temanku, kami akan membakar sebuah kertas yang kami lipat dan ketika terbakar, kami bersorak karena api menerbangkannya ke udara, mendaki langit hitam mengapai bintang-bintang. ketika malam merambat naik, sebuah permata berkilauan terbang di ujung kegelapan pepohonan. lalu aku mengejarnya, pikirku kali ini aku akan berhasil menangkapnya. tapi teman-temanku mencegahnya, “permata yang terbang akan membawamu ke dunia lain, kau akan terus mengejarnya dan kau takkan bisa kembali…” teriak teman-temanku. namun kakiku telah melangkah jauh, aku tak menghiraukannya. permata itu terus terbang menjauhiku. aku terus mengejarnya, sampai aku berhenti kelelahan dan putus asa. saat aku menolah ke belakang dan kesekelilingku, aku telah jauh berdiri di pinggiran desa dan teman-temanku telah tiada. permata itu akhirnya lenyap. tiba-tiba dari rerimbunan bambu, burung hantu berbunyi, bulu kudukku berdiri dan aku berlari sekencang-kencangnya sampai sebuah akar pohon ara menangkapku hingga terjatuh. aku tak sadarkan diri setelah itu. sampai kemudian aku terbangun, dan mendapati diriku terbaring diranjang besiku.  kakakku tersenyum memandangku adikku tertawa mengejekku. sementara itu kulihat orang tuaku bermain catur dengan tetanggaku. begitulah, semuanya begitu indah sampai bapakku merampasnya dengan mengirimku ke sebuah asrama pesantren setingkat sekolah menengah pertama.

pesantren Mustika begitu masyarakat menyebut pesantren persatuan islam no.85 ini, karena letaknya yang berdekatan dengan kompleks parbik ubin Mustika.  Mulai saat itulah klaim-klaim kebenaran mulai memerangkap dan membatasi gerak langkahku. aku mulai menyadari bahwa ada berbagai perbedaan disekitar kehidupanku dan tempatku belajar telah menentukan bagaimana menentukan posisi ditengah keragaman tersebut, yakni dengan memagarinya, meletakkan batas-batasnya, dan menyediakan atap pelindungnya. kondisi yang akhirnya menyulut pemberontakanku.    

Nilai mata pelajaranku rata-rata saja.kecuali untuk pelajaran umum dimana aku sedikit unggul disana. Hanya dua pelajaran yang aku sukai saat dipesantren, yakni hadits dan tafsir. mata pelajaran yang kelak begitu bergunanya dalam pencarian kebenaran yang aku lalui. kitab kumpulan hadits bulughul maram aku baca habis, aku bahkan berusaha untuk membaca syarahnya dan kau tau,.. itu hanya diberikan di kelas mualimien. ketertarikanku akan hadits terkait dengan perbedaan-perbedaan aktivitas ibadah, dalil hukum dan lain sebagainya. metode penentuan kesahihan hadits dalam almustolahul hadits aku peergunakan untuk mengidentifikasi hadits-hadits yang kontroversial. menyadarkanku akan sejarah pembentukan hukum yang begitu panjang dan penuh muatan politis.hal yang sama berlaku dengan tafsir al Qur’an. Aku tak kenal Cak Nur saat itu, apalagi Fazlur Rahman, Al jabiri dan Arqoun. tapi hasratku untuk keluar membebaskan diri dan mencari interpretasi yang lain ditambah prilakuku yang suka berkelahi dan melawan ustad membuat orang tuaku menyerah dan mengizinkan aku keluar dari pesantren.    

***

yogyakarta yang berhati nyaman dan sleman yang sembada ah..disanalah masa remajaku kulalui. darimana ya aku hrus memulai mengenai jogja. malioboro yang hangat, kota gede, alun-alun. tapi baiklah aku akan memulai dari gendeng, lalu memasuki jalan timoho, menyusuri jalan aspal seukuran satu mobil menuju kridosono lalu melewati jalan solo,lurus ke utara berbelok ke kiri di Boulevard UGM, kiri lagi di jalan HOS Cokroaminoto, sampailah sepeda kumbangku di MAN 1 jogja.  setelah menamatkan tingkat SLTP di pesantren, aku melanjutkan sekolah di Madrasah aliyah negeri 1 Yogyakarta. sebuah sekolah tua yang dahulu bernama PHIN. sekolahku berada di dekat kompleks kampus Universitas Gajah Mada. namun, karena kakakku kuliah ushuludin di IAIN sunan Kalijaga yang berada di jalan solo, Sapen, maka aku kost di daerah tersebut. sepeda onthel tua seharga 50 ribu yang dibeli dipasar terban adalah teman-hari-hariku menyusuri jalan-jalan kota. 1997, dijalan-jalan sekitar boulevard UGM biasanya banyak buku bekas dan buku copian yang di jual. disitulah sehabis pulang sekolah aku duduk-duduk untuk membacanya. tak ada enny arrow disitu, justru aku ketemu Marx untuk pertama kalinya. sebuah buku merah terselip seolah hendak disembunyikan penjualnya yang mahasiswa itu. aku memeintanya. awalnya dia ragu untuk memberikannya padaku, tapi berkat desakanku akhirnya dia menyerah. “manifesto communist party” aku membaca isinya, “..ada hantu berkeliaran di eropa…..” begitulah isi buku itu saat aku membuka halaman dengan sembarang, selebihnya aku tidak paham. aku tak membelinya…dan memang aku hanya ingin membaca gratis di situ. si penjual tak mengizinkanku membacanya lama. ia mengambilnya kembali dan menyuruh datang lagi esok jika mau membacanya. aku segera paham kalau buku-buku seperti itu dilarang beredar.  ketika aku sampai kost dan menatap lemari buku kakakku yang penuh deretan buku, ternyata buku merah itu juga ada di sana. kakakku penyuka emha ainun najib, semua tentang markesot ada dalam rak buku itu. aku juga menyukainya. sebuah buku bersampul biru berjudul “tanah untuk rakyat” membuat bulu kudukku berdiri. isinya tentang teror. buku itu tentang pengadilan mahasiswa ITB bandung. isinya semuanya adalah pledoi terdakwa. taulah aku sejak itu betapa catatan kejahatan rezim militer begitu panjang. bulak sumur mengajarkanku pertama kalinya tentang filsafat. rumus-rumus logika, silogisme, dan dialektika mulai mengubah cara berpikirku. saat aku duduk di kelas II B seseorang memperkenalkanku dengan Hegel disuatu taruna melati pelajar muhammadiyah. tapi bulaksumur juga yang kemudian menyuruhku untuk membuatnya berjalan di atas bumi. 

1997, pemilu yang berdarah. rombongan pemuda cakra (underbow golkar) menyerang ibu-ibu yang menghardik mereka. ibu-ibu tersebut dilarikan ke rumah sakit. yogya yang PPP marah. mahasiswa IAIN berkumpul dikampus sampai 10 Malam. KAPOLDA datang menenangkan mereka tapi yang terjadi adalah hujan batu. aku sudah tinggal di gowok saat itu. semua orang kampung keluar rumah. berkumpul dijalan solo, sebagian berkerumun di depan ambarukmo. ban-ban dibakar, bendera golkar tidak ada yang tersisa. jam 11 malam ribuan polisi menyerbu, membubarkan masa mengejarnya sampai gang-gang. mereka mengejarnya bahkan sampai pintu depan rumah kontrakanku. sejak itu makin yakinlah hasratku untuk melawannya.april 1998, jam 10. pagi,  tiba-tiba 8 truk mobil tentara memasuki sekolah dan memarkirnya dilapangan sekolah yang cukup luas. ia menurunkan tameng-tameng kaca, helm, senapan, dan pentungan. kelasku berada dilantai dua, dan semua murid berlari ke arah kaca untuk menyaksikannya. selintas pikiranku teringat dengan beberapa selebaran yang aku peroleh dari warung angkringan dipojok sekolahku. seorang gondrong, dengan celana jeans belel ah lebih mirip gelandangan,  dan sebuah tato di tangan memberikannya padaku saat menunggu bel pagi berbunyi.  berikutnya ketika relly-relly aksi mahasiswa mulai membesar awal mei. untuk pertama kalinya sebagai seorang anak SMU aku berdiri diatas panggung berdampingan dengan syafii maarif yang didaulat massa aksi untuk berorasi di Bunderan UGM. ketika saatnya tiba… hanya dua kata yang keluar dari mulutku…”Anjing… Soeharto….Anjing…Soeharto… kau dengar yang dipojok?” teriakku,sampai seorang mahasiswa menarik mikroponku dengan tergopoh-gopoh, “…sudah…sudah…” aku akhirnya mengembalikannya. berikuitnya relly aksi berlanjut di ISI dan IAIN. aku yang kecil tau pasti kemana harus lari ketika pasukan anti demonstrasi menyerang melibas siapa saja. tapi nahas untuk teman-temanku. seorang tertembak dipaha dan satu lagi sempat babak belur diangkut ambulan ke panti rapih. dalam pengejaran tak sekalipun aku tertangkap.  

ketika UMPTN mulai datang.aku tak pernah bersiap untuknya. aku memilihnya tuk ada dijalanan. dan kau tau? akhirnya aku gagal. bahkan saking bodohnya, PBUD (penelusuran bibit unggul daerah) yang memberiku tiket gratis ke Sosiologi UGM, IKIP Jogja, dan IAIN kalijaga karena rangking kelasku yang kebetulan menjadi yang pertama aku abaikan. jadilah aku menganggur satu tahun. aku gak mau ke IAIN saat itu. orangtua dan kakakku tak mempan membujukku. ada alasan aku tidak  mau masuk IAIN jogja. pertama karena hampir separuh teman-teman kelasku masuk disitu, kedua,aku ingin mengambil jalan berbeda dengan kakakku.  bersambung…  aku tak tahan menganggur, setahun aku lewatkan dengan tak mengerjakan apapun. aku juga menyerah karena melihat ibuku menangisi diriku. tahun ajaran baru aku pergi mengunjungi kakak ku di ciputat. masih ada sisa hafalan dalam memori otakku untuk meloloskan diri di ujian IAIN syarif hidayatulloh. kakakku, anwar seorang pengkader di HMI MPO.bersama yang lain mendirikan episteme.aku menertawakan dia ketika dia memberiku kuliah tentang Adorno dan habermas. ah  bahkan sampai saat ini kami selalu menjadi partner dalam berdebat sesuatu. renggut kata-kata dari kesunyian dan renggut gagasan-gagasan dari ketiadaan, demikian Balzac. 

UMPTN membawaku ke suatu tempat yang sebelumnya tak pernah terlintas dibenakku. Solo. aku lulus dan meninggalkan Jakarta. sedih juga saat melihat anwar melepas kepergianku di jatinegara menuju Solo. ah ia memang perasa. pernah ketika masih duduk di MI. kami berjalan bertiga. anwar saat itu kelas 6, aku kelas 4 dan adikku kelas 2. berjalan bersama teman yang lain menyebrangi jalan rel kereta api. tiba-tiba seorang anak sedikit diatas anwar mendatangi kami dan langsung mencengkeram kerah bajunya. dia bingung dan hampir menangis karena menahan amarah. aku yang tau mengenai anak berengsek itu berteriak mengingatkan anwar untuk diam saja. sampai orang-orang menghardik kami karena mau berkelahi. dan anak lelaki berengsek itu pergi sambil mengancam. muka kakaku pucat saat itu, sementara aku tertawa terbahak-bahak menertawakan kejadian lucu itu.”siapa dia?”.tanyanya sambil menjitak kepalaku. sambil terkekeh aku jelaskan kalau dia salah orang. aku tahu anak tadi adalah saudara dari anak yang kemarin aku larang berenang di kolam belakang mesjid kampungku. peristiwa itu masih berbekas dalam ingatanku. anwar yang sederhana dan perasa aku sangat menyayanginya.ketika ketukan rel kereta semakin cepat, aku tersenyum untuk dia. …  

***

Solo, kota yang merah, semerah lembayung senja yang dihimpit bahu merbabu, ketika mentari sembunyi dibalik merapi, dan ketika garis hitam mulai menghilang dalam bayangan Lawu ditimur jauh. solo mentransformasikan diriku dari pergulatan otentisitas selama ini ke ranah-ranah budaya lembut yang melawan. solo, kota sejuta hik… disana kita bicara tentang segala hal. mulai dari sex, ancaman PHK, penggarukan pengamen di ngemingan merdeka, alotnya PKB sari warna, penertiban becak, Kapolwil baru yang meminta negosiasi uang jago bandar cap jie kie (sehingga selama seminggu posko judi libur), kampus yang pret…maaf tak bedanya dengan penjara, geliat politik nasional..dan akhirnya laporan reportaseku dalam pembakaran balaikota, matahari dan kantor golkar yang terkenal itu. aku memulai karir sebagai wartawan magang di pers kampus. ah ada banyak liku setelah itu.

ketika seorang kawanku mati. aku menulis ini untuk diriku: 

“mari kita bica soal bagaimana memilih mati

mati satu, dilupakan waktu terombang-ambing tiada

tepimenjalani hidup hanya mencari keamanan diri 

mati dua, diiringi makaian dan kutukan

karena segalanya dipenuhi oleh rampasandan hati nurani telah engkau bungkam 

mati tiga, mungkin dirindukan

penindasan tak letih engaku lawan kau sedang menuju kematian yang mana?

Kentingan, 1 januari 2002

beberapa jam setelah memperingati berkurangnya usia. ketika, hatiku tergoda dengan wanita aku menulis ini : 

“jarum-jarum hujan tak henti menghujam bumiah…terasa seolah menusuk sanubarihati,di sana ada hasratterus memberontakhendak bebas melayang tinggimenukikmenemukan tempat persinggahannyauntuk yang entah kesekian kalinyahati,…duh gustitak bisakah dia damai walau dalam sunyi?”                                kentingan, 4 feb 2002 

ketika sahabat ku sofyan yang pengamen menggangguku, aku menulis ini untuknya 

“ada bau peluh mendekati jendela

berdiri sesosok tubuh hitam

tak kalah gelap dari bayangan siang

ada apa gerangan kawan? 

kemarin kau hendak pergi

lantas apa yang membawamu kembali ?

 mondar-mandir kau seperti berpikir

komat-kamit mulutmu pahit

lalu mengalunlah untaian syair ratusan kata menghambur merdu direka dari mulutmu yang bau

rupanya kata yang kau persiapkan itu”                               

 yosodipuro, 28 Juli 2003  

sampai pada akhirnya aku menulis : 

“universitas adalah pabrik dan para sarjana adalah produknya,tapi UNS seperti yang lainnya juga merupakan penjara bagi manusia-manusia yang menyerahkan otaknya untuk dipasung dan dibekukan.mesin raksasa neoliberalisme tertawa pongahsaat kuncir dipindahkan meledaklah pengangguran.universitas bukan lagi tempat ditemukan kebenaran tapi penuh dengan mantra-mantra tipuan dan pelajaran kebohongan,mata kuliah pembangunan, pasar bebas dan bagaimana cara mengakumulasikan modal universitas hanya milik borjuasidan kelas menengah naif yang melahirkan intelektual-intelektual karbitan dan buta dengan kemiskinan dan ketertindasan saudara sebangsa mereka”   Kampus kentingan, Januari 2004

 sejenak sambil menunggu nilai ujian skripsiku. ketika seminggu sebelum wisuda perpisahan, seorang teman perempuan memintaku berfoto seorang diri. dan setelah mencetaknya aku menulis ini dibelakang cetakan fotonya: 

“sampai saatnya tiba (mampus)kepalan tangan ini takkan pernah mengendur…” begitulah…  

nb. sampai di sini aku bertutur. ada yang setia dalam perjalanan hidupku…kesunyian       

kini bolehkah aku memintamu mengusirnya dariku?


About this entry