bersama sebutir embun

“bersama sebutir embun”

 pertengahan kemarau  

Ketika aku siuman, bulan yang kesiangan hampir saja meninggalkanku. Rupanya ia sengaja menahan lebih lama untuk tak segera tenggelam. Siang yang terbujuk, memanggil awan kelabu meredupkan pagi.  lalu satu persatu ia mulai jatuh menjadi butiran-butiran basah, dan akar-akar yang haus berebut menyambutnya,  aku hanya memperhatikannya dari balik jendela. Terpesona, tapi aku enggan membiarkan tubuhku basah bersamanya.  Malam sebelumnya, aku mencoba menghampirinya. Mencoba merentangkan kedua tangan dan  menanti dia memelukku mesra. Ketika ia mulai datang mendekat, aku menengadahkan wajah dengan mata terpejam. Sejenak  kemudian, saat aku terjaga kembali, aku mulai membencinya.  

“Pergilah jauh-jauh dari hatiku” gumamku. 

Ketika tanah-tanah yang merekah, batang-batang pohon yang kering, akar-akar yang liat berlomba menyambutnya, Ia melayang, terus saja melayang, namun enggan mendarat. Sementara butiran lain telah lenyap ditelan tanah yang kerontang, ia masih saja menari-nari, dengan gerakan dan kilauannya yang anggun, bersama angin yang semilir.  Ia terlalu mempesona. Membuat sesamanya menjadi iri.  Bersamaan dengan itu, ia tetap tak bergeming dengan rayuan, bujukan, godaan dan ia mulai manjadi angkuh, membuat mereka yang tergoda menjadi putus asa. Lama ia melayang. Ia  enggan untuk terhempas, ia takut sirna ditelan bumi, ia ingin tetap menjadi dirinya seutuhnya.  Kini ia bersandar dipunggung sehelai daun yang kering. Bertengger menertawakan tanah yang memuji-mujinya.  Ketika pagi mulai sunyi, ia mulai menyadari dirinya kini kesepian. Tapi Ia ragu apakah dunia disekelilingnya benar-benar sunyi. Ataukah mereka hanya bersabar dan menahan diri untuk menunggunya menjatuhkan diri.

 “Aku takkan menyerah mengikuti kemauan mereka”. Tekadnya.

Ia menunggu sejenak. Tapi tetap tidak ada suara. Hening dan kesunyian mulai menghimpitnya. Akhirnya, dengan setengah hati, perlahan ia mengarahkan pandangannya ke bawah. Sangat perlahan, takut dunia menjadi tahu dan bersorak  kalau ia mulai berkompromi dengan keadaan. 

“Ah tidak”

 “mereka takkan pernah mendapatkanku. Tak akan”. 

Kembali ia menengadahkan wajahnya ke langit. Menertawakan butiran-butiran yang lain yang terjatuh melewatinya. Membuyarkan hening, Ia mulai menyanyi lagam lagu kesunyian. Senandung-senandung yang memaksa siapa saja untuk tak bisa berpaling darinya. Menari-nari dan memperlihatkan kilauannya yang menggoda. Ia berhasil. Kembali dunia memujinya. Tapi ia terlalu angkuh dengan pujian. Setiap godaan segera ia balas dengan ejekan.ia tak mempan dengan rayuan. Hari-hari berikutnya, pintu masalahku mulai dibuka. Hatiku yang tergoda, mulai bertanya-tanya.

“Dapatkah aku menggapai dan menyentuhnya  tanpa membuatku basah?”

Dari kejauhan, kuperhatikan dia dengan hati-hati. Dibalik terali jendela aku terus saja mengamatinya. Sampai batas lamunan, aku lalu tersenyum.

 Awal penghujan  

Penghujan pun akhirnya datang. Langit kota kini mulai redup. Butir embun kembali bersiap menyambutnya dengan seribu ejekan. Satu, dua tetes lalu jutaan jarum hujan turun dari langit. Tapi ia tetap saja tidak bergeming.  Aku mulai mencemaskannya. Lalu langit pun mulai menjadi gelap, dan kilatan halilintar mulai mencambuk bumi, membuat garis lengkung menyilaukan di langit kota.  Saat hujan mulai mengguyur dengan derasnya, ia segera tahu kalau dirinya terancam. Satu dua butiran berhasil ia elakkan, namun akhirnya jutaan butir hujan yang ditiup angin puyuh membuatnya terhempas. Ia kini lenyap dari pandanganku, menghilang bersatu dengan dunia yang basah.  Saat hujan reda, udara kini menjadi semerbak dengan bau tanah. Beberapa lekukan mulai menjadi genangan. Mereka bergumah, saling memeluk, bersetubuh dan mengeluarkan keringat, beberapa terinjak menjadi lumpur. Tunas-tunas mulai bersemai, menjadi daun muda. Alam menyanyikan lagu baru. Pujian-pujian lama digantikan pujian yang baru. Merayakan kehidupan yang tumbuh berganti.harapan-harapan baru meninggalkan kerinduan untuk bertahan dalam kematian. Karena mereka kini memiliki harapan untuk suatu perubahan, sedangkan butiran yang kesepian hidup mempertahankan keadaan. Karena mereka kini dipenuhi impian-impian indah, sedang butiran embun tak lagi memiliki memiliki mimpi yang ia kejar.  Dalam genangan aku mendengar suara kecil yang hampir tak terdengar karena gaduhnya dunia yang merayakan masa awal kesuburan. Aku menemukannya. Tapi aku ragu untuk mendekatinya, tatapannya menunjukkan tekad yang kuat untuk tak tersentuh. Saat tersadar, sang embun mulai terkesima, ia kini berkubang dalam genangan, menyatu dalam tanah yang becek. Tatapannya kini menjadi tajam, matanya memerah, dan ia mulai marah dan melolong seperti serigala malam. Ia mulai tak terkendali, tertawa-tawa sendiri lalu menangis di tengah malam dini. Berada disampingnya berarti bersiap dengan segala murkanya.  Pagi yang semerbak, dan ia kini menunduk dalam sepi.  Aku yang risau mulai menghampirinya. Lalu mengambil tempat duduk tepat disampingnya. Aku mengatur nafas dan memulai menyapanya dengan lirih. Perlahan ia mengangkat kepalanya. Lalu kami bersama-sama terjatuh ditelan tanah yang masih basah.   

Jakarta, desember 2006    

Awal musim kemarau 

Lama aku menenggelamkan diri dalam kubangan air hujan yang berlumpur. Berenang dan terus berenang. Kami saling bergumah, saling memeluk, bersetubuh dan mengeluarkan keringat.Namun kini Tunas-tunas tidak juga bersemi, daun-daun muda tidak juga tumbuh. pada satu pijakan kaki kulihat garis air dalam kubangan semakin turun. Aku tak yakin, namun ketika pijakan kakiku yang satu lagi menginjak tanah yang basah kulihat air kini semakin menyusut. Kini yang tertinggal hanyalah lumpur dan  kutahu ia akan segera mengering. Aku melolong memanggil-manggil dirinya, berteriak memohon belas kasih matahari untuk tidak dahulu menampakkan diri.  Lalu semuanya Sunyi, senyap….tak ada suara. Sampai pada satu hari, angin bertiup dingin, lalu awan-awan berganti warna dan mulai menghitam. Lalu bergetarlah bumi yang kupijak saat kilat menyambar dan diikuti dengan gelegar guntur yang saling menyusul. Aku menangis terharu, gembira. Kembali alam raya merayakan kehidupan. 

“kalian semua…terima kasih..oh wahai pagi yang semerbak”

aku larut dalam perayaan kehidupan ini.  namun itu semua tak lama, lalu langit kembali berganti warna. Biru menggantikan hitam. Perlahan genangan mulai mengilang. Digantikan lumpur yang perlahan mengering.  Sayup-sayup aku mendengar suaranya, begitu samar. aku terus memanggil-manggil dirinya.  

“Dimanakah kau berada kekasihku?”

aku semakin gundah.Tak ada suara. Kembali semuanya sunyi senyap. Saat bau tanah yang terbakar mulai menyengat, oh..Pagi yang semerbak, dan kembali kulihat ia kini menunduk dalam sendu. Aku mencoba menggapai kembali tangannya. Namun ia tak bergeming. Dalam hening matahari berbisik kepadaku. Angin semilir menentramkanku.Matahari meyakinkanku bahwa ia akan kembali bersama dengan diriku, ia akan merubahnya menjadi awan. Lalu angin berjanji kepadaku pada saatnya ia akan meniup awan kearahku. Lalu mataharipun mengkatnya menjadi butiran partikel yang begitu ringan. Tanganku berupaya menggapainya mencoba menariknya kembali, namun tidak dapat. Ia terus terbang. Semakin tinggi. Lalu menyatu bersama butiran lain  dalam langit yang mulai memutih. Aku menangis sejadi-jadinya, Tanpa kusadari butiran air yang menetes dari dua kelopk mataku pun segera mengilang. Saat ku terjaga, kulihat ia berubah menjadi butiran-butiran partikel yang mengangkat dirinya menyatu bersama gumpalan awan yang memutih. Di pinggir jendela, di setiap pagi yang sejuk, kembali aku menunggu ia turun sebagai  sebutir embun. 

Jakarta, 23 mei 2007  


About this entry