Bagang-bagang yang hilang

Bagang-bagang yang hilang 

Jakarta, 9 februari 2008   

Jaring kerang terakhir terangkat sudah. Syamsudin membereskan semua perlengkapan dan menaikkan semuanya ke dalam perahu ukuran empat PK miliknya. Satu-satunya alat bagi dirinyanya menghidupi keluarga.

“mar, kau tau kenapa aku mengajakmu mengunjungi bagang kita”

“ndak syam. Kalau saja ada kerjaan, mendingan aku congkelin kerang di rumah”

“ya mestinya memang begitu mar”

“tapi kemarin kudengar ijah cerita suaminya hanya dapat pengganti 600 ribu untuk bagangnya. Benar, Syam?”

“ya kudengar juga” hening sesaat, syamsudin menghisap dalam-dalam rokok kesayangannya.

“lalu kamu mau iklasan bagang ini juga syam”

“kamu mau terima ganti rugi seperti soleh, syam?”

“lalu kamu mau kerja apa syam?”bertubi-tubi pertanyaan dari marni, syam belum juga menjawab. Namun kembali ia menghirup asap rokok dalam-dalam dan mengeluarkannya penuh kenikmatan. Seperti sedang mengeluarkan semua beban yang ada dalam dirinya. 

“aku takkan sudi menjualnya mar”

“jangan kamu ikut-ikutan menjadi bodoh Mar”

“kita akan makan kenyang untuk 2 minggu, tapi setelah itu kita akan kelaparan. Ndak mar. Aku tidak sudi’

“mereka akan tetap menggusurkan syam? , sudi nggak sudi syam.”

‘terserah, mereka bisa merampasnya tapi tidak kehormatan ini’

“kita lihat siapa yang pengecut, dan kita akan bersaksi untuk para penjarah itu”

“jika kamu mengambilnya, kita mungkin akan terhindar dari kerugian yang lebih besar syam’

“kau mau uang kedzaliman itu mar” kali ini syam meninggikan suaranya marni terdiam, bentakkan itu seperti halilintar yang menyambar dirinya. Jarang sekali syamsudin berkata sedemikian keras kepadanya. matanya mulai berkaca-kaca. Terbayang sudah yang akan menimpa dirinya dan anak-anaknya jika bagang ini hilang.  ada juga rasa bangga dalam dirinya dengan kuatnya tekad suaminya, namun terbayang juga bagaimana ijah menikmati hari-harinya belakangan ini. Saleh suaminya kini beralih profesi. Perahunya ia jual. Uangnya ia pakai untuk membeli televisi dan membuka warung kelontong.  Marni menghentikan lamunanya. tinggalah ia menentramkan diri sendiri dan mulai memikirkan cara untuk menentramkan anak-anaknya. perahu kecil 2 PK itu kini telah siap untuk kembali ke muara baru. Gelombang teluk cukup tenang, melengkapi cerahnya hari. Namun tidak dengan hati syam dan marni. Sejak seminggu ini pikiran dan hatinya penuh terus dipayungi awan hitam. Ia sedang memeras otak bagaimana menghadapi hari depannya, akan-anaknya yang masih SMP dan hutang-hutang yang masih membelitnya.  

**

Syamsudin berdiri mematung. Ditatapnya kini tepian teluk Jakarta telah berganti pasir, Lumpur dan timbunan sampah. 20 tahun yang lalu saat dia menghabiskan waktu bercengkrama dengan marni kekasih yang kini membesarkan anak-anaknya, tepian penuh dengan bakau yang lebat. Kuntul, biyawak, monyet, elang dan belibis menjadi teman mereka berpacaran.  

“Oh Marni, lihatlah pohon bakau tempat kita berpacaran kini hilang sudah.”

“ah kamu syam. Apa guna mengenang masa lalu?”

“kau ingat ketika kita saling bergumah di rerimbunan bakau itu Marni?”

“eh..kok tambah ngelantur. Malu dong syam!”

“kenapa malu? Nggak ada burung lagi yang ngintip kita toh mar?”

“dasar…wong edan” namun, tak pelak juga ingatannya kembali menuntun dia ke hari-hari indah diusia remajanya. Ketika ia mencuri-curi waktu kosong dan menghabiskan tengah hari di hutan bakau yang rindang. Saat ketika syam muda yang nakal mulai membelai rambutnya yang terurai, dan marni muda menyandarkan diri dipelukan kekasih pujaannya. Saat tangan dan jemari syam mulai bergerak nakal dan ciuman menyapu wajah dan bibirnya yang tebal. Ketika lengguhan-lengguhan tenggelam dan menyatu dalam debur ombak yang sesekali meninggi dan menghantam sisi hutan. 

 “mar, perumahan itu telah merampasnya dari kita”

“tumpukan tanah dan pasir itu kini bahkan terkapling-kapling sudah”

“kamu lihat papan bertuliskan “sale” itu mar?”

“kau tau arti tulisan itu mar?”kali ini giliran syamsudin yang menghujani marni dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah menguliti kebodohannya. Pertanyaan yang tak mungkin dijawab oleh perempuan yang bahkan tak pernah mengecap bangku sekolah. 

“jelaskan padaku syam”kau tau aku ini memang tak berpendidikan, tapi tak benar-benar bodohkan aku ini” cetusnya dengan cemberut.

‘Ha..ha..kau lihat tuh wajahmu mar, kamu kadang mengemaskan jika cemberut”  

mangrove, padang lamun, terumbu karang, ikan,…estuaria yang damai, diamana kalian berada kini” syam setengah berteriak.  ”sekarang jelaskan kepadaku syam, bagaimana bisa aku membayangkan laut yang tak ada batasnya ini kini terkapling-kapling. Bagaimana bisa mereka menetapkan batas-batasnya diatas air yang berombak?,”

“dari mana mereka mengambil tanah untuk menutupi teluk ini syam. Berapa puncak gunung yang harus mereka tebas untuk menutup teluk ini syam”

“apakah para penunggu gunung tidak juga marah seperti marahnya hantu-hantu diteluk ini?Atau mereka sudah tidak ada rasa hormat dan takut lagi pada leluhur mereka?” Marni istriku, kamu memang istriku yang cerdas. ”Sudahi hinaanmu syam”

”pertanyaanmu tak mungkin aku jawab marni, mereka yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan cerdasmu”

”pertanyaanmu juga mesiu bagiku menghadapi para penjarah itu marni”

”pertanyaanmu juga membantuku meladeni wartawan muda yang sering berkunjung kerumah kita marni”  

***

udah syam kita mesti segera pergi. Satpam kapuk datang tuh.” 

 “biarkan saja dia. Kalau berani dia mengusir kita, kupancung kepalanya”

“ah kamu mana berani?” goda marni

“coba saja” syam tak kalah, tapi wajahnya memerah

“yuk kita pulang, kerangnya nanti bau” syam menggandeng tangan istri tercintanya kembali menaikii perahu kecilnya.Perahu mereka pun melaju memunggungi matahari yang mulai turun di pantai barat.

 #  muara baru, 9 januari 2008      


About this entry