bersama sebutir embun
“bersama sebutir embun” pertengahan kemarau Ketika aku siuman, bulan yang kesiangan hampir saja meninggalkanku. Rupanya ia sengaja menahan lebih lama untuk tak segera tenggelam. Siang yang terbujuk, memanggil awan kelabu meredupkan pagi. lalu satu persatu ia mulai jatuh menjadi butiran-butiran basah, dan akar-akar yang haus berebut menyambutnya, aku hanya memperhatikannya dari balik jendela. Terpesona, tapi [...]
pragmen
kelokan pertama, mata bertemu mata. tatapan bertemu tatapan, hati yang gelisah bertemu hati yang gelisah. dahi yang mengernyit dibalas dengan dahi yang mengernyit sesungging senyuman pelit dibalas dengan kepelitan yang setara ketika sejajar… berpapasan… tak terkatakan. bisu. diam. bungkam. kelokan kedua. …tanpa suara masih saja saling memandang dan mulailah sebuah sungging kecil kelokan ketiga. wajah [...]