bersama sebutir embun

“bersama sebutir embun”  pertengahan kemarau   Ketika aku siuman, bulan yang kesiangan hampir saja meninggalkanku. Rupanya ia sengaja menahan lebih lama untuk tak segera tenggelam. Siang yang terbujuk, memanggil awan kelabu meredupkan pagi.  lalu satu persatu ia mulai jatuh menjadi butiran-butiran basah, dan akar-akar yang haus berebut menyambutnya,  aku hanya memperhatikannya dari balik jendela. Terpesona, tapi […]

Posted at 2:35 am on February 22, 2008 | Leave a comment | Filed Under: prosa | Continue reading

pragmen

 kelokan pertama,  mata bertemu mata. tatapan bertemu tatapan, hati yang gelisah bertemu hati yang gelisah. dahi yang mengernyit dibalas dengan dahi yang mengernyit sesungging senyuman pelit dibalas dengan kepelitan yang setara ketika sejajar… berpapasan… tak terkatakan. bisu. diam. bungkam.     kelokan kedua.  …tanpa suara masih saja saling memandang dan mulailah sebuah sungging kecil     kelokan ketiga.  wajah […]

Posted at 2:22 am on February 22, 2008 | Leave a comment | Filed Under: sajak | Continue reading

About

hei…disini kita, kamu, kalian, saya bisa berkata-kata, mengata-ngatai, menyusunnya menjadi prosa, mencopotinya menjadi sajak, bisa juga jadi puisi…dan karena kata-kata ini tentu berasal dari mulut, pikiran mahluk yang bernama manusia, maka kata-kata yang hadir kami persembahkan untuk kemanusiaan.

Categories


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.